Tampilkan postingan dengan label berita daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita daerah. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2009

Usaha Mikro Harus Dikembangkan




Untuk mengangkat potensi perekenomian daerah, pemerintah melalui dinas terkait diharapkan mencari berbagai peluang ekonomi yang nantinya bisa dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Melihat potensi yang ada, cukup banyak peluang usaha baru yang bisa dikembangkan di Pariaman, misalnya usaha pertanian.

“Untuk itu ke depan bantuan atau kredit yang disalurkan kepada masyarakat petani hendaknya dapat dikembangkan dalam bentuk pengembangan usaha makro. Dengan demikian akan terbuka lapangan pekerjaan,” terang salah seorang tokoh rantau Pariaman DR Jenius Umar.

Menurutnya secara kalkulasi pengembangan usaha makro akan memberikan manfaat yang lebih besar, mengingat banyaknya tenaga kerja yang bisa ditampung. Lain halnya dengan usaha mikro yang hanya bisa dikembangkan oleh perorangan, yang tentunya tidak bisa dilakukan oleh semua orang.

Untuk mengembangkan usaha pertanian yang bersifat makro, yang nantinya akan menyerap lebih banyak tenaga kerja, bisa saja dilakukan dengan mengembangkan usaha tertentu yang produknya bisa dipasarkan di luar daerah. [*]



padang-today.com
senin, 16 maret 2009
foto internet

Rabu, 11 Maret 2009

Waspadai Gelombang 1,5 Meter


Padang, Singgalang



Para nelayan tradisional di pesisir Sumatra Barat (Sumbar) diminta mewaspadai kemungkinan terjadi gelombang laut setinggi 1,5 meter. Sebab, gelombang setinggi itu berbahaya bagi keselamatan mereka.


Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tabing Padang, Selasa (10/3) menyebutkan gelombang laut Sumbar sepanjang Rabu (11/3) ini berpeluang bisa mencapai ketinggian 1,5 meter, dan ini perlu diwaspadai nelayan saat melaut.


Analis BMKG Tabing Padang, Eddy Sasmita menyebutkan ketinggian gelombang 1,5 meter berpotensi terjadi di perairan hingga laut Mentawai. Sementara itu, ketinggian gelombang di perairan barat Kepulauan Mentawai atau Samudera Hindia bisa mencapai dua meter, dan ini berbahaya bagi perahu dan tongkang.


Eddy yang dikutip Antara juga menyebutkan cuaca di wilayah pesisir barat Sumbar umumnya berawan, serta berpeluang hujan dengan intensitas ringan. Sedangkan cuaca wilayah daratan Sumbar berpeluang hujan pada sore dan malam hari.


Dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar, hanya lima yang berawan pada siang dan malam hari, selebihnya berpeluang hujan. Angin bertiup berkisar antara Barat sampai Barat Laut dengan kecepatan 10-15 kilometer per-jam.


Temparatur udara rata-rata antara 21-31 derajat Celcius, dan kelembaban udara rata-rata antara 62-95 persen.


Pantauan di wilayah Kota Padang, Selasa pagi kemarin, kabut asap semakin tebal menyelimuti wilayah ibukota Provinsi Sumbar itu, namun belum mengganggu jarak pandang masyarakat. Diperkirakan jarak pandang masih berkisar lima hingga enam meter.


Sebelumnya, BMKG Tabing Padang menyebutkan kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumbar merupakan kiriman dari Riau karena terpantau ada titik api di daerah itu.
Pantauan BMKG awal pekan ini menunjukkan 26 titik api terdapat di kawasan hutan provinsi tentangga itu, dan sebagian kecil di kawasan hutan perbatasan Sumbar-Sumatra Utara.*



hariansinggalang.co.id
rabu, 11 maret 2009

Hentikan Dulu Kegiatan Seremonial


Padang, Singgalang



Menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN) yang bakal dilakukan pada April mendatang, diharapkan pemerintah daerah tak menggelar acara seremonial yang melibatkan siswa dan para guru. Sebab, akan memberikan dampak kurang baik terhadap persiapan menghadapi UN tersebut.


Hal itu dikatakan oleh mantan Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Prof. Satni Eka Putra selaku Direktur LSM Peduli yang bergerak di bidang pendidikan kepada Singgalang di Padang, Selasa (10/3).


Menurutnya, acara-acara seremonial yang digelar tersebut sebenarnya tak banyak memberikan manfaat karena banyak mengandung unsur politiknya saja. Bila tak ada digelar, para siswa dan guru bisa lebih optimal mempersiapkan diri menghadapi UN tersebut.


Dalam UN mendatang, target kelulusan 100 persen memang tak harus dipatok, karena akan membebani siswa dan para guru untuk mencapainya sekaligus menghalalkan segala cara. Bisa saja, akan membantu siswa dengan memberikan jawaban yang benar. Bila itu dilakukan, maka percuma saja karena nilai tinggi bukan didapat dari kemampuan siswa itu sendiri. Kendati demikian, upaya keras untuk mencapai hasil yang maksimal harus dilakukan. Yang diinginkan adalah target peningkatan kualitas pendidikan secara umum yang harus dicapai.


Guna mencapai hasil yang maksimal itu, lanjutnya, berbagai persiapan dan langkah harus dilakukan. Seperti belajar tambahan semakin diintensifkan. Lalu, pihak sekolah harus mengurangi kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa yang bakal mengikuti UN supaya mereka bisa lebih fokus pada persiapan. Bukan itu saja, dorongan dan kontrol orangtua sangat diperlukan terhadap anaknya. Kemudian, menjaga kesehatan mereka juga sangat perlu agar tetap sehat ketika ujian.


“Para siswa menjelang UN sangat diforsir tenaga dan pikirannya. Di sinilah peranan orangtua untuk bisa mengontrol dan menjaga anaknya supaya tak drop kesehatannya. Apalagi passing grade (batas kelulusan) pada UN tahun ini meningkat menjadi 5,5, tentu para siswa mati-matian untuk mencapainya” kata Satni.


Di samping itu, dia juga meminta kepada pemerintah daerah agar memperhatikan juga sekolah swasta dan agama. Apalagi sekolah agama tersebut, selama ini seperti dianaktirikan dengan alasan telah mendapatkan bantuan dari Departemen Agama. Kendati dapat, jumlahnya tak banyak dan tetap masih kurang untuk melakukan perbaikan gedung atau fasilitas sekolah.(103)



hariansinggalang.co.id
rabu, 11 maret 2009

Minggu, 08 Maret 2009

Caleg Segel Sekolah 240 Siswa Belajar di Teras


Padang, Singgalang


Sebanyak 240 murid SD Negeri No 14 Kelurahan Banuaran, Nagari nan XX RT 23/ RW VIII Kecamatan Lubuk Begalung terpaksa mengurungkan niat mereka menimba ilmu, Jumat (6/3). Gedung sekolah tempat mereka belajar, disegel Jasmar, calon legislatif (caleg) DPRD Sumbar Nomor Urut 1 Dapil 1 (Padang-Mentawai) dari Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI).Penyegelan tersebut terjadi sejak pukul 09.00 WIB. Murid-murid tersebut terpaksa belajar di teras rumah warga. Meski demikian, murid SD tersebut tetap tekun belajar.

Keadaan tersebut bermula ketika tanah seluas 1.500 meter persegi yang merupakan tanah milik Jasmar sejak tahun 1998 digunakan pihak sekolah dengan perjanjian, pihak sekolah menyewa sebesar 2 karung padi atau senilai Rp340 ribu per bulan.“Perjanjian tersebut telah dilanggar pihak sekolah karena tidak membayar sewa tanah selama lima tahun dan juga ada pejanjian pembuatan sertifikat tanah akan dibantu pihak sekolah, tetapi nyatanya sekolah tidak merealisasikannya,” kata Jasmar.

Menurutnya, sekolah dan komite berjanji akan membayar sewa yang terdahulu dan membeli tanah tersebut seharga Rp100 ribu per meter. Perjanjian tersebut disepakati pada September 2008 lalu dan pada Februari lalu jasmar baru menerima Rp7juta.“Melihat hal seperti ini, mulai saat ini tanah tersebut tidak disewakan lagi, dan jika ingin dibeli harus ada kepastian dari pihak yang berwenang,” tegas Jasmar.

Sementara itu, Ketua Komite Sekolah Taharuddin mengatakan, pembayaran sewa tersebut dibayar dari hasil pungutan sebesar Rp100 ribu per wali murid yang disepakati dari hasil rapat komite pihak sekolah dengan para wali murid pada September 2008 lalu.“Mungkin hanya segitu yang bisa dibayar pada saat ini, tetapi karena kurang puas ia (Jasmar-red) langusng mengusir siswa dan guru yang sedang belajar di ruang kelas dan menyegel pintu,” jelasnya.Ia juga menyesalkan sikap Jasmar mengingat para siswa kelas VI akan menghadapi pra Ujian Sekolah Bertaraf Nasional (USBN) pada Selasa-Sabtu (10-14/3) mendatang.

Di lain pihak, Pelaksana tugas Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan lubug Begalung Yuslim menyatakan, permasalahn ini telah dipalorkan kepada Dinas Pendidikan Padang, dan sedang diproses.“Karena pada tahun ini penggantian tanah tersebut tidak bisa dimasukkan dalam anggaran pendidikan tahun 2008, maka penggnatian itu akan dimasukkan ke APBD 2009,” jelasnya.Untuk mencari solusi, pihak sekolah bersama Jasmar, disaksikan oleh lurah setempat dan pihak kepolisian dari Lubeg melangsungkan pertemuan selama 1,5 jam. Dari hasil pertemuan disepakati bahwa pihak sekolah diberikan waktu satu Minggu untuk menyelesaikan segala hutang piutang. Akhirnya Jasmar membuka segel tersebut agar para siswa dapat melanjutkan proses belajar mengajar seperti biasa. Demikian Antara-Sumbar.o*


hariansinggalang.co.id
Sabtu, 07 March 2009

Jumat, 27 Februari 2009

Kasus Basrial Perantau Piaman Kecewa

Pariaman, Singgalang


Kasus Ir Basrial, anggota Komisi B DPRD Kota Pariaman yang kedapatan membawa 7 gram shabu-shabu oleh jajaran Polda Metro Jaya, Senin (23/2) lalu, mengundang kekecewaan kalangan perantau Piaman di beberapa daerah.

Menurut perantau kejadian tersebut adalah aib dan malu rang Piaman. Apalagi kejadian terjadi di ibukota Jakarta. Di mana perantau Piaman banyak berdomisili. Tapi banyak pula yang menyebut, kejadian yang menimpa Basrial adalah pembelajaran berharga bagi bagi anggota DPRD, caleg dan masyarakat di Kota Pariaman.

Salah seorang tokoh perantau Pariaman di Ciledug, Tangerang, Banten, HM Sya’ban, SE., dalam pesan singkatnya kepada Singgalang, Kamis (26/2) menyatakan kecewa dan prihantin dengan kejadian ditangkapnya anggota dewan Kota Pariaman, karena membawa barang psikotropika jenis shabu-shabu.

“Seharusnya, seorang anggota dewan yang terhormat, mesti mampu menunjukan sikap dan mental yang baik kepada masyarakat. Begitu juga terhadap generasi muda. Seorang anggota dewan mesti mampu memberikan pelajaran yang baik. Karena dia adalah orang-orag terbaik. Jangan malah sebaliknya, menjadikan generasi muda rusak. Apalagi membuat generasi muda terjebak kepada hal-hal yang mengakibatkan hancurnya masa depan, seperti narkoba,” tulisan Sya’ban dalam pesan singkatnya.

Menghadapi pemilu yang sudah di depan mata, Sya’ban minta warga Pariaman yang berada di kampung, agar betul-betul selektif dalam menentukan pilihan.

Sementara Amril Anapia, salah seorang mantan anggota DPRD Kota Pariaman periode 1999-2004 yang ditanya Singgalang mengungkapkan, bagi masyarakat Piaman, kasus yang menimpa Basrial ini haruslah dijadikan sebuah bahan perenungan. Untuk selajutnya melihat dan menganalisa secara selektif, mana dan siapa Caleg yang betul-betul mampu dan bisa menjadi seorang tokoh dan pemimpin yang akan mengayomi masyarakat Piaman kedepan.

Dijelaskan Amril Anapia, peristiwa yang menimpa anggota DPRD Kota Pariaman Ir Basrial ini adalah arang yang telah mencoreng nama baik lembaga wakil rakyat dan masyarakat Kota Pariaman secara umun. Ibarat makan buah semangka, satu yang makan, semua yang kena getahnya. satu yang berbuat, semua yang kena malunya, ulasnya.

Amril berharap, para politisi di Kota Pariaman harus bisa melihat masalah ini secara komprehensif lalu menjadikannya sebuah sarana pembelajaran. (dam/432)


hariansinggalang.co.id
jumat, 27 februari 2009