Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2009

Hati Gelap dan Hati Terang




Hati adalah sumber moral dan mental terpuji. Kalau akal menunjuki manusia pada kebenaran, maka hati memberi cara bijak mencapai kebenaran itu. Selain itu, hati berfungsi sebagai penerang akal, ketika akal berada dalam kebimbangan dan keraguan. Hati membentuk kepribadian agar manusia tahu persis apa yang harus dilakukan terhadap apa yang dihasilkan oleh akalnya. Kehidupan modern terlalu memacu akal dan mengabaikan pembinaan hati, lebih mengutamakan pengajaran daripada pendidikan. Seorang ayah seringkali lebih memperhatikan angka-angka rapor yang dicapai, daripada memperhatikan perkembangan kepribadian anaknya. Dan karena itu Allah di samping menganjurkan kita untuk mengajarkan buku-buku, hukum-hukum alam dan kebijakan-kebijakan, juga menganjurkan untuk melakukan penyucian hati (Q.S. 2: 151).

Menurut Abdullah bin Mas'ud, seorang sahabat Nabi SAW, ada empat hal yang menyebabkan hati manusia menjadi gelap. Pertama, perut terlalu kenyang, melampaui batas yang diperlukan. Kedua, bergaul dengan orang-orang yang zalim. Ketiga, melupakan dosa-dosa masa silam tanpa ada perasaan menyesal. Dan terakhir, panjang angan-angan. Sebaliknya, ia juga berpendapat ada empat hal yang membuat manusia memiliki hati yang terang. Pertama, hati-hati dalam mengisi perut. Kedua, bergaul dengan orang-orang yang baik. Ketiga, mengenang dosa-dosa dengan penuh penyesalan. Dan keempat, pendek angan-angan.

Dari nasihat tadi dapat disimpulkan, ada empat hal yang harus kita perhatikan dalam pendidikan hati anak kita. Pertama, memperhatikan makanan yang kita berikan kepada anak-anak kita. Yang diperhatikan tidak terbatas pada komposisi gizinya, tetapi juga halal haramnya dan jumlah porsi yang harus diberikan. Kebanyakan kita memberi makan sebebas-bebasnya dan sebanyak-banyak, karena mengira makan yang banyak menyehatkan. Ingat pengertian sehat bagi Islam tidak terbatas pada sehat jasmani saja, tetapi meliputi sehat akal dan sehat hati.

Kedua, pergaulan. Menurut Abu Thayyib setiap kelompok manusia yang kita pergauli memiliki implikasi tersendiri dalam pembentukan kepribadian. Pergaulan dengan anak kaya membentuk pribadi cinta dunia, dengan anak miskin membentuk pribadi bersyukur yang selalu senang dengan ketentuan Allah, dengan anak penguasa membentuk pribadi sombong yang berhati keras, dengan wanita membentuk pribadi bodoh yang bersyahwat tinggi, dan dengan anak-anak kecil membentuk pribadi senang bermain-main. Ketiga, mengajarkan kepada anak agar terbiasa melakukan introspeksi, mengkaji diri terhadap semua perbuatan yang telah dilakukan, baik perbuatan baik atau jahat. Dengan demikian berarti kita telah membiasakan anak-anak kita belajar berbuat bijak. Dan keempat, mendidik anak bersikap realistik tapi tidak kehilangan idealisme dalam menghadapi kenyataan-kenyataan hidup. - ahi



republika.co.id
Rabu, 11 Februari 2009 pukul 15:20:00

Nikmat Mata




Kita seringkali luput untuk memperhatikan nikmat mata yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Padahal mata merupakan salah satu nikmat Allah yang sangat besar manfaatnya untuk kehidupan kita. Mata adalah alat pengamat yang paling canggih. Ia mampu membedakan warna secara rinci dan tepat, yang tak mungkin dicapai oleh alat elektronik yang hebat sekalipun. Sayangnya, orang jarang memikirkan karunia Allah yang tiada taranya itu. Manusia condong kepada memperhatikan bentuknya dari luar, seperti bentuknya yang bulat, besar, dan kecil, atau warnanya yang hitam, coklat, dan biru. Orang jarang memperhatikan pemeliharaan dan kesehatan mata. Mata yang merupakan alat pengamat yang paling baik dan dapat dipercaya kecermatannya, seharusnya dipelihara dan dilindungi dari pengaruh buruk yang dapat mengganggu keselamatannya.

Apabila mata terlalu banyak melihat hal yang dilarang oleh agama, dan pengawasan akal tidak terlaksana karena ia lemah atau terpengaruh oleh keinginan negatif, maka mata akan kehilangan kemampuan untuk melihat. Ia tetap berkedip, tetapi tak mampu menangkap obyek yang dilihatnya, dan tidak mampu pula melaporkan yang dilihatnya. Di kala itu, orang dikatakan buta karena matanya tidak dapat lagi melaksanakan fungsinya.

Peristiwa seperti itu sering terjadi pada orang-orang yang mengalami konflik kejiwaan, yang menghilangkan kemampuan salah satu anggota tubuhnya untuk berfungsi. Dalam hal ini, yang terjadi adalah hilangnya fungsi melihat pada matanya. Obatnya adalah perawatan kejiwaan (psikoterapi). Ketika itu manusia baru sadar, betapa pentingnya mata. Allah mengingatkan manusia yang tak mampu memanfaatkan alat-alat indranya dengan baik, ''Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata, tapi tak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Mereka mempunyai telinga, tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q. S. 7:179).

Demikianlah gambaran manusia yang tidak mau menggunakan mata. Alangkah sombongnya manusia yang tidak mau tahu tentang yang menganugerahkan mata yang mampu melihat, menangkap, dan menyampaikan laporan tentang temuannya secara cermat dan jujur. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menggunakan mata untuk kebaikan. - ahi


republika.co.id
Jumat, 20 Februari 2009 pukul 12:01:00

Generasi Tauhid





Ketika ajal hampir tiba, Nabi Yakub memanggil anak-cucunya. Ia merasa khawatir meninggalkan generasi ingkar tauhid, karena hanya akan menjadi ''sampah'' masyarakat. Ia ingin memeriksa sejauh mana kemantapan mereka terhadap agama tauhid yang telah ditegakkan nenek-moyangnya. ''Hai anak-cucuku, siapakah yang akan kalian sembah sepeninggalku nanti?'' tanyanya.

Dengan tegas anak-cucu Yakub menjawab, ''Kami akan menyembah Tuhan sesembahanmu dan sesembahan moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishak, yaitu Tuhan Yang Mahaesa. Dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.'' (Al-Baqarah 133). Dialog di atas menggambarkan keserasian antara generasi tua dan generasi penerus dalam menegakkan ajaran tauhid, yang tentu saja harus menjadi teladan bagi setiap muslim. Yakub sangat khawatir meninggalkan generasi lemah iman dan gersang agamanya. Namun ia sangat bahagia ketika mendengar anak-cucunya memberikan pernyataan bahwa mereka tetap berpegang teguh pada ajaran tauhid.

Yang ditanyakan Yakub, ''Siapakah yang akan kalian sembah sepeninggalku nanti'', bukan ''Apa yang akan kalian makan sepeninggalku nanti.'' Sungguh suatu penanaman nilai tauhid yang sangat luar biasa lagi mendalam. Kenyataan yang ada sekarang, jauh berbeda. Banyak orangtua lebih mendambakan harta. Merasa sangat khawatir anak-cucuknya tidak bisa makan sepeninggalnya nanti, hingga tidak jarang hidupnya dihabiskan untuk mengumpulkan kekayaan. Tak lagi ingat halal-haram, yang penting anak-cucu bisa hidup bahagia dengan harta warisan sampai tujuh turunan. Agama sekadar ucapan lisan, hatinya kosong penuh kemunafikan. Padahal Ibrahim dan Yakub pernah berwasiat, ''Hai anak-cucuku, Allah telah memilih buatmu agama, maka janganlah kalian mati sebelum benar-benar menjalankan ajaran agama Islam.'' (Al-Baqarah 132).

Kita diberi pelajaran yang sangat berharga, agar mengikuti jejak Ibrahim dan Yakub dalam membina generasi penerus. Kalau kita mengikuti paham materialis, berarti telah cenderung pada faham Qarun yang ditenggelamkan ke bumi oleh Allah. Kekayaan yang pelimpah akan menjadi fitnah bagi anak-cucu. Boleh jadi mereka akan memperebutkan harta warisan, lupa kepada jerih payah dan perjuangan orangtua. Melihat realitas yang ada, ketika manusia sibuk memikirkan materi, kita seharusnya mampu mencoba diri membekali nilai-nilai tauhid kepada anak-anak sejak dini. Kita kenalkan mereka dengan kalimah thayibah. Kita perdengarkan kepadanya bacaan kalam Ilahi dan ucapan-ucapan yang baik. Kita perlihatkan perilaku yang terpuji, dan bahkan di dalam rumah pun kita pajang hiasan dinding yang mengandung nilai-nilai Islami.

Kita ajak anak-anak ke majelis taklim, ke masjid maupun ke surau. Kita biasakan mereka berinfak, mengasihi fakir miskin, dan yatim piatu. Menyayangi teman dan menanamkan rasa kebersamaan. Dari sinilah akan lahir generasi tauhid yang kita dambakan. (ahi)


republika.co.id
Senin, 23 Februari 2009 pukul 14:18:00